TEBRAU
Cerpen: ARLEN ARA GUCI Engkau mengigau jika mengira hatiku seluas Tebrau. Mengenangmu kini seperti menggantang asap disengat mentari. Apa lacur. Hatiku beku. Mendengar namamu telingaku pekak lebih dulu. Mendengar suaramu dadaku berubah batu. Bibir dan hatiku tak lagi bersimpang dua. Takkan pernah ada cerita tentangmu di episode hidupku. Azamku membuku. Tanah asalku bilang, sirih takkan bertemu pinang. Suci kapur kusajikan, getah damar kau hidangkan. Niatku mendulang intan, rupanya terdulang angin. Kusangka kau umpama bulan yang dapat digenggam. Rupanya kau bintang nun jauh di sana. Tak mungkin dapat kusentuh. Sungguh! *** Kalau semula aku tahu niatmu bermain kayu tiga . Tak payahlah aku seroman membuang garam ke sentra samudera. Engkau pernah berkata sekali (kan ku ingat sampai mati), “kita tak sepadan .” Jantungku rasa dicucuk sembilu. Dadaku tercabik menerima. Aku kuatkan jua. Meski petuah ayah melarang. Pantang lelaki patah arang. Apatah hati terkerat karena wanita. Aku tet...